Showing posts with label essay. Show all posts
Showing posts with label essay. Show all posts

24 September 2007

Adios, Jose!


Rasanya bagai disambar petir di siang bolong, ketika Jumat (21/9) yang lalu saya dikabari teman bahwa pelatih eksentik berkebangsaan Portugal yang menjuluki dirinya sendiri ‘The Special One’, Jose Mourinho, mengundurkan diri dari Chelsea FC. Awal mulanya saya cuma menganggap kabar tersebut sebagai gurauan saja. Saya sendiri baru benar-benar percaya setelah pada hari Minggu (23/9) menyaksikan siaran One Stop Football on Sunday di Trans7.
Kepergian pelatih ini juga mungkin akibat hasil tidak maksimal yang diperoleh dari pertandingannya yang terakhir, ditahan imbang 1-1 melawan Rosenborg FC (Champions League), dan sebelumnya 0-0 melawan Blackburn Rovers serta kalah dari tim tuan rumah Aston Villa 2-0 (EPL). Prestasi yang cenderung menurun ini, meski masih menempatkan Chelsea di papan atas persaingan EPL, namun tidak sesuai dengan ekspektasi sang pemilik Chelsea, Roman Abramovich.

Roman sebagai seorang biliuner Rusia yang selalu menginginkan hasil lebih tentu mempunyai ‘standar kemlaratan’ yang berbeda. Setelah sukses membawa FC Porto menjuarai liga Champion, Jose ditransfer ke Chelsea pada musim 2004-05. Kontan prestasi yang dihasilkannya luar biasa gemilang. Selama hamper setengah abad Chelsea belum mendapatkan gelar di Liga Premiere, langsung diberikannya pada musim itu. Dan langsung dua musim berturutan. Sayang kesempatan untuk mempertahankan dominasi tiga tahun berturutan dipatahkan Manchester United karena krisis lini belakang di tubuh Chelsea.
Enam tropi yang diberikannya selama tiga tahun membesut Chelsea rupanya belum cukup menghapus dahaga sang pemilik akan trofi Liga Champion. Selain dandanannya yang ‘dandy’, mulut pedas dan tingkah laku kontroversialnya membuat dirinya menjadi sosok yang paling menarik perhatian sekaligus menjadikan dirinya sebagai pribadi yang mudah mempunyai masalah. Pria yang pernah dinobatkan sebagai pemilik gaya berbusana terbaik di Britania Raya bersanding dengan Gwen Stefani di dandanan wanitanya ini, selain sering melakukan perang kata-kata dengan para rivalnya, juga acap kali melontarkan pernyataan pedas terhadap pemain dan petinggi klubnya sendiri.
Keputusannya untuk membangku cadangkan pemain kesayangan Roman, Shevchenko dan Ballack, bahkan tidak mencantumkan Ballack dalam daftar pemain Chelsea untuk babak kualifikasi grup liga Champion membuat posisinya seperti telur di ujung tanduk. Dan konfliknya dengan pemain Chelsea pun semakin membuat keputusannya untuk mundur menjadi tak terelakkan.
Dan yang saya sangat sesalkan adalah kenapa tidak ada pembelaan dari pihak Chelsea, mengingat prestasinya yang gemilang selama ini. Termasuk rekor kandang tak pernah terkalahkan terbanyak di EPL (64 pertandingan) yang mampu mematahkan rekor 63 kali milik Liverpool pada saat ditangani Bob Paisley (1978-80).
Sosok yang mampu memberi motivasi dan mendoktrin para pemain untuk menjadi juara benar-benar menjadi inspirasi bagi saya. Buat saya Jose ibarat Hitler untuk Nazi. Kepemimpinannya yang kuat dan eksentrik ini juga menjadi komoditas tersendiri bagi industri persepakbolaan Inggris. Saya yakin, lepasnya Mourinho akan mengurangi ‘nilai jual’ EPL. Bahkan seterunya di lapangan, Sir Alex Ferguson pun sangat menyayangkan mundurnya Mourinho. Mungkin tidak akan ada lagi sosok yang bisa diajak berbagi wine dan beradu komentar di luar lapangan. Dari semua pembeberan tadi, bagi diri saya sendiri, untuk saat ini saya tidak punya alasan untuk mencintai Chelsea lagi. Saya cuma berharap saya bisa melihat aksi-aksi Mourinho lagi di dalam dan luar lapangan. Dan saya pun berharap seandainya tulisan ini bisa menggugah para blogger lain yang memiliki persamaan dengan apa yang saya rasakan, untuk sama-sama menuliskan komentarnya. Semoga saja tulisan ini bisa ada artinya.


22 May 2007

HOT SPOT: Kebutuhan, Peluang, dan Ancaman


Popularitas Tukul Arwana dan jargonnya “kembali ke laptop” benar-benar bisa membuat suatu hal yang signifikan, termasuk di sekitar Yogyakarta. Lihatlah di sekitar kota, khususnya di kampus-kampus, mall/pusat perbelanjaan, ataupun resto/café di bilangan utara Kota Yogyakarta. Banyak anak-anak muda, yang notabenenya mahasiswa, membawa gadget yang biasa digunakan Tukul untuk memandu acaranya itu. Umumnya mereka membawa laptop yang sudah dipersenjatai dengan WiFi (Wireless Fidelity) Card atau kadang disebut juga Wireless LAN Card atau Wireless Card saja. Sebuah piranti untuk laptop yang menghubungkan laptop dengan Access Point(AP) atau Router untuk mengakses internet. Bagi laptop baru, umumnya sudah ter-install WiFi card. Sedangkan laptop lama, cukup dengan mengeluarkan uang dua ratus ribuan, anda sudah dapat menikmati layanan internet gratis di berbagai tempat di Yogyakarta.
Layanan internet gratis di sekitar wilayah AP ini biasanya disebut hot spot. Hot spot yang daya jangkaunya hanya beberapa meter saja ini juga punya standarisasi sendiri. Namun yang paling banyak diterapkan di Yogyakarta, adalah 802.11 b dan 802.11 g yang masing-masing memiliki kecepatan 11 Mbps dan 54 Mbps atau 108 Mbps dengan tambahan Turbo G (saya belum menemukan yang 802.11 a). Kedua standarisasi ini bekerja pada frekuensi 2,4 GHz.
Untuk memanfaatkan Hot Spot ini, ada berbagai macam kebijakan yang diterapkan oleh provider-nya. Ada yang bisa langsung terhubung dengan AP (seperti di Ambarukmo Plaza/Citranet, Kedai Nusantara di Nologaten, atau Lembah Kampus UGM), ada yang harus terdaftar MAC address (nomor seri WiFi Card) dan IP address-nya (seperti di kampus, i.e.: AMIKOM, UGM), dan ada pula yang memakai WEP Key (semacam password ke AP) (seperti di RAMA-NET/Netindo Group, Seturan).
Namun biarpun berbeda-beda, ada satu kesamaan keuntungan yang bisa kita dapatkan, sama-sama gratis. Hal ini sangat menguntungkan, khususnya bagi mahasiswa yang senang mendengar kata “gratis”. Kalau beruntung, anda bisa sekaligus menikmati pemandangan atau suasana yang menyenangkan di sekitar hot spot. Kalau ada duit, anda bisa singgah ke café sembari menikmati secangkir kopi, cukup dengan sedikit biaya yang jauh lebih murah daripada yang anda keluarkan untuk menggunakan jasa warnet. Yang paling asyik adalah jika tempat tinggal kita dekat dengan area hot spot. Jika legal, kita bisa memanfaatkan layanan ini kapan pun kita mau. (Hal ini sangat berbeda dengan yang saya rasakan ketika di Bandung –ketika saya PKL di Telkom RisTI selama dua bulanan. Semisal di BTC (Bandung Trade Center), BEC, Cihampelas Walk atau beberapa café lain yang mengharuskan berlangganan ke CBN, Melsa, atau IM2. Kalau ada gratisan, biasanya tiap sekitar tiga menit putus).
Adanya hot spot gratisan ini, bagi kebanyakan mahasiswa seperti saya merupakan berkah tersendiri. Selain hemat biaya, resiko keamanan seperti history, cache, ataupun lupa logout dari suatu website bisa terhindari dengan memakai laptop sendiri. Software aplikasi yang digunakan pun bisa lebih beragam dari software-software yang terinstal di komputer warnet. Bagi entrepreneur, melihat hot spot ini merupakan suatu peluang untuk melebarkan segmentasi pasar atau menjaga loyalitas pelanggan. Dan bagi pedagang komputer, hot spot ini menjadi isu penting untuk menaikkan angka penjualan laptopnya.
Di samping keuntungan dan peluang yang ditawarkan, hot spot juga datang dengan sedikit kerugian dan ancaman. Yang nantinya paling terasa dampaknya adalah bisnis warnet. Seiring terjangkaunya harga laptop, orang-orang yang beralih menggunakan layanan hot spot ini pun akan makin banyak jumlahnya. Namun, hot spot ini pun bukan berarti bebas dari ancaman. Ada segelintir orang yang “kreatif” (baca:kere dan aktif) yang tinggal di sekitar lokasi hot spot, mampu menghadirkan hot spot tadi ke tempat tinggalnya. Tentunya resiko keamanan dan bandwith yang terbuang karena hal ini harus bisa diatasi. Selain hal tersebut, yang mungkin jadi ancaman buat WiFi adalah hadirnya tehnologi baru yang lebih hebat seperti WiMax yang punya daya jangkau hingga 30 km. Jika sudah begini, maka pemerintah dan instansi/asosiasi pengusaha yang terkait harus secepatnya membuat regulasi untuk memanfaatkan keuntungannya dan mengatasi kerugian yang dibawa.
Di balik semuanya, saya yakin nantinya akses internet masyarakat kita bisa merata dan cuma-cuma. Menjadi suatu kebutuhan yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Sama seperti akses acara televisi. Dulu kita wajib membayar “iuran”, namun sekarang kita bisa menonton acara televisi sesuka hati kita berkat kerjasama sponsor yang menjajakan produknya lewat televisi. Pertanyaannya: “Siapkah kita menyaring informasi dari internet tersebut? Khususnya untuk anak-anak dan generasi muda kita?”

04 March 2007

Jadilah "Bangsa Semut!"


Tulisan ini saya buat empat tahun yang lalu dan memenangkan Lomba Penulisan Essay tingkat SLTA se-Jawa & Bali dalam rangka Hari Pers Nasional tahun 2003. Baru-baru ini saya mendengar dari teman saya, Irfan, bahwa ada yang nulis mirip dengan tulisan ini. Tapi, lanjut dia, tulisan itu baru di publish. Yang jelas, dulu saya terinspirasi dari film The Antz, dan bukunya Harun Yahya. Trus lanjut cari berbagai artikel dan lahirlah tulisan ini. Ini tulisan kedua saya yang saya kirim ke luar dan langsung jadi juara 3. Yang pertama berjudul Bebek, Gurem, dan Supernova juga menang di tingkat nasional.

Jadilah “Bangsa Semut”!


Di masa ini, setidaknya kita harus mau mengakui bahwa salah satu penyebab utama krisis multidimensional yang menimpa bangsa ini adalah adanya sikap individual dari tiap-tiap komponen bangsa. Di setiap tingkatan sosial, baik itu rakyat jelata, buruh, pengusaha, sampai pejabat tinggi pemerintahan selalu ditemukan sikap individual yang membuat keutuhan Bangsa Indonesia semakin rentan. Sikap sikut menyikut, saling menjatuhkan kepentingan pribadi maupun golongan, serta berbagai perbuatan individualisme lainnya sudah menjadi menu utama di media massa kita. Bahkan sebuah media massa sebagai penyedia informasi yang punya pengaruh besar terhadap sikap masyarakat kita, masih sering menampakkan individualisme-nya melalui bias berita yang disajikan.

Mungkin kita sudah lupa tentang petuah orang tua-orang tua kita tentang sebatang lidi yang mudah dipatahkan, tapi akan menjadi kuat apabila beberapa lidi disatukan. Nasihat orang tua kita itu merupakan gambaran condition sin quanon (keharusan) untuk bersatu agar menjadi bangsa yang kuat. Dan tak bisa dipungkiri lagi bahwa persatuan telah hadir menjadi pilihan yang pertama dan utama untuk mengatasi berbagai kemelut yang ada dalam bangsa ini.

Sejarah nasional bangsa kita sudah berulang kali mencatat bahwa perjuangan baru akan berhasil bila di dalamnya terdapat persatuan, kesatuan, serta pengorganisasian yang kuat, tidak bergantung pada jumlah yang banyak. Contoh yang sangat sederhana dari kekuatan persatuan dan pengorganisasian yang baik adalah kesuksesan Bangsa Jepang dan Belanda menjajah bumi pertiwi selama bertahun-tahun, padahal jumlah mereka jauh lebih sedikit daripada kita. Dalam hal ini, sebuah pepatah Arab mengatakan, “Al-katsiiru bi ghairi nidzaamin, yaghlibuhu al-qaliilu bi an-nidzaami” (jumlah yang banyak tetapi tanpa aturan, akan dikalahkan mereka yang sedikit tapi teratur). Senada dengan pepatah tersebut, Sun Tzu dalam “Art of War”-nya menyatakan, “Kekuatan suatu tentara tidak tergantung dari pasukan yang besar. Jangan maju hanya karena pasukan yang besar saja”.

“Jika ada propaganda, bikin dong propaganda yang lebih canggih!”, pernyataan KH. Abdurrahman Wahid ini menjadi inspirasi saya dalam membantu menemukan salah satu solusi untuk menyatukan bangsa. Jika dahulu Bung Karno pernah menyerukan, “Jadilah ‘Bangsa Tempe’!” , kepada bangsa ini untuk membangun bangsa yang kuat, maka dalam kaitannya dengan hal ini saya ingin menandinginya dengan seruan: “Jadilah ‘Bangsa Semut’!”. Pengubahan kata ‘tempe’ menjadi ‘semut’ yang saya lakukan tentu memiliki cukup alasan, bukti, dan kajian. Namun secara sederhana dapat dikatakan bahwa serangga yang namanya diabadikan sebagai nama salah satu surat dalam kitab suci umat Islam (surat An-Naml) ini, adalah bahwa semut merupakan makhluk paling sosioekonomis dengan “peradaban” yang sangat maju. Di samping itu, keberadaan semut ini sendiri sering dianggap remeh oleh manusia. Padahal hewan yang sekali injak langsung mati ini, merupakan populasi tertinggi di dunia (dengan rasio setiap 700 juta semut yang muncul ke dunia ini, hanya terdapat 40 kelahiran manusia). Dan fakta yang lebih menakjubkan bagi bangsa ini adalah: dalam banyak hal kita telah dikalahkan semut!

Civil Society ala Semut

Selama berabad-abad, pengertian tentang civil society terus berkembang. Secara tradisional, hingga abad XVIII Masehi, pengertian ini hanya terbatas pada bentukan kata-kata Yunani “koinomia politike” atau bahasa Romawi “societas civilis” yang berarti masyarakat politik. Kemudian pada abad ini timbul pemikiran-pemikiran sosial dari Inggris, yang terhimpun dalam tulisan-tulisan John Locke, Tom Paine, Adam Smith, dan Adam Ferguson, yang pada dasarnya bisa diambil kesimpulan bahwa civil society adalah suatu konsep masyarakat yang terpisah dari negara, yang memiliki bentuk dan prinsip sederhana. Sedangkan Hegel, dalam “Philosophy of Right” mengartikannya sebagai wadah kehidupan etis, yang terletak diantara kehidupan keluarga dan kewarganegaraan, dimana faktor-faktor di dalamnya sangat ditentukan oleh permainan ekonomi dan jati diri individual. Pendapat yang paling akhir dari pengertian civil society ini dilontarkan oleh Antonio Gramsci dalam karyanya “Prison Notebooks” (1971), yang menganggap bahwa civil society sebagai bagian dari negara yang terlepas dari pemaksaan ataupun aturan-aturan formal, meski tetap mengandung unsure rekayasa, seperti lazimnya institusi politik.

Menyusul kemudian, untuk membedakan diri dari pemikiran Barat dan memberi contoh yang lebih konkrit, kalangan modernis Islam mengambil model masyarakat civil society dari kehidupan masyarakat Madinah zaman Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Model masyarakat inilah yang kemudian disebut sebagai model masyarakat madani, yaitu masyarakat berperadaban (madaniyah) karena tunduk dan patuh (daana-yadiinu) pada ajaran kepatuhan (diin) yang dinyatakan dalam supremasi hukum dan peraturan. Masyarakat ini, menurut Robert N. Bellah, merupakan tatanan sosial politik yang sangat modern. Segi-segi modernitas yang dimaksud ialah adanya tingkat yang tinggi dalam komitmen, keterlibatan dan partisipasi yang diharapkan dari seluruh anggota masyarakat, keterbukaan posisi kepemimpinan terhadap ukuran kecakapan pribadi, yang dinilai atas dasar pertimbangan yang bersifat universal, dan dilambangkan dalam percobaan untuk melembagakan puncak kepemimpinan yang tidak bersifat keturunan. (Nurcholis Madjid, Pluralisme: Teladan dalam Piagam Madinah).

Namun jauh sebelum itu, jutaan tahun sebelum teori-teori tentang civil society dan masyarakat madani muncul, Sang Pencipta Semesta telah menciptakan sebuah model alam yang akan menjadi sebuah contoh dan pelajaran yang berharga bagi umat manusia: semut! Dan ini terbukti bahwa semut-semut selama jutaan tahun telah menjalani sistem social yang ideal dan bertentangan dengan tatanan masyarakat manusia yang didasarkan pada persaingan dan kepentingan individu.

Serangga yang jumlah spesies-nya mencapai angka 14.000-an ini mengajarkan kepada kita memahami perbedaan sebagai nilai positif, rahmat Tuhan. Yang menarik dari kehidupan semut adalah cara hidupnya dengan berkoloni, dimana dalam koloni tersebut terdapat pembagian kasta yang masing-masing mempunyai fungsi untuk mendukung kelangsungan hidup koloninya. Sistem kasta ini terbagi atas tiga bagian besar. Dan yang lebih mengherankan adalah setiap anggota koloni semut, tanpa terkecuali, tunduk pada sistem ini. Di dalam tiga bagian besar kasta yang terdiri dari ratu dan semut-semut jantan, prajurit, dan pekerja ini tidak ditemukan adanya ranta komando antara yang satu dengan yang lainnya. Tugas-tugas terumit dalam masyarakat ini terlaksana karena adanya organisasi diri yang sangat canggih.

Di samping organisasi diri, dalam hal pengorbanan semut benar-benar mampu menunjukkan pengorbanan tingkat tinggi. Setiap semut menjalankan tugas sesuai kedudukan masing-masing tanpa merasa iri dengan tugas yang dilakukan semut dalam kasta yang berbeda. Semut juga mampu memberi segala miliknya, dari makanan hingga nyawa tanpa merasa ragu, agar semut lain tetap hidup. Seperti pengorbanan yang dilakukan oleh semut-semut pejantan yang rela mengikuti upacara perkawinan, yang identik dengan ritual kematiannya. Atau juga seperti yang dicontohkan oleh semut pekerja dari spesies Camponotous, yang mau mengorbankan dirinya dengan melakukan tehnik kamikaze untuk melindungi koloninya. Sementara itu, ketika para semut telah melaksanakan model kehidupan masyarakat madani, manusia masih belum bisa menyelesaikan berbagai masalahnya karena kurangnya pengorbanan diri dan kesadaran diri akan kepentingan bersama, seolah-olah yang terbersit dalam pikirannya adalah: “Hanya aku!”.

Ah, seandainya semut-semut itu hadir dan mengikuti Dialog Nasional “Bersatulah Bangsaku” dalam memperingati Hari Pers Nasional tahun 2003 kemarin, pastilah ketika Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan petuah, “Perbedaan justru jadi kekuatan,” mereka akan bersuara lantang, “Kami sudah mencontohkannya, Pak!”.

Komunikasi dan Tehnologi

“Perkembangan geopolitik internasional tidak lagi sebatas pendekatan ideologis, tapi sudah berkembang menjadi pendekatan informasi dan penetrasi pasar,” demikian Sri Sultan menegaskan pentingnya informasi dan komunikasi dalam sebuah bangsa. Dan semut sebagai makhluk social pun telah “memahami” arti penting informasi dan komunikasi antar sesama. Dari menemukan mangsa, bertarung, membangun sarang, hingga gerakan saling mengikuti, hewan arthropoda ini banyak menggunakan isyarat kimiawi sebagai alat komunikasi. Dengan men-sekresi-kan sejumlah senyawa semiokemikal berupa feromon dari tubuhnya, semut bisa memberikan beberapa isyarat yang berbeda kepada sesamanya. Di samping menggunakan senyawa kimia tadi, semut masih menggunakan beberapa cara komunikasi lain yang bisa menyelesaikan masalah-masalah, yang terkadang tidak bisa diselesaikan oleh cara komunikasi manusia sekalipun. Semisal senyawa hidrokarbon sebagai “kartu identitas” koloni, atau juga “berjabatan” antenna sebagai sapaan dan ajakan masuk sarang. Tanpa komunikasi ini semut mustahil bisa hidup, karena semut adalah makhluk sosial yang hidup berdasarkan berita timbal balik dari teman satu koloninya.

Di samping kecanggihan komunikasi, semut juga dianugerahi kecanggihan dalam bidang tehnologi arsitektur dan pertanian. Contoh dari ketinggian tehnologi arsitekturnya semut terdapat pada seni pembuatan sarangnya. Bangsa manusia untuk meniru pembuatan bangunan model sarang semut ini, cukup memakan sebagian besar usia manusia untuk menghimpun informasinya saja. Sebab dalam sarang ini terdapat pola keruangan yang terdiri dari banyak labirin ruang-ruang, dimana di dalamnya termasuk petak-petak perkebunan jamur, gudang makanan, pembuangan limbah, saluran sirkulasi udara, dan gua-gua dengan terowongan yang membentuk jalan sabuk sekitar 7,5 meter dari sarang. Dengan terowongan-terowongan ini beberapa “markas” semut bisa terhubung menjadi semacam kota metropolis bawah tanah.

Belum cukup kita dibuat terkagum-kagum dengan tingginya ilmu kimia, arsitek, dan pertanian semut, binatang dengan setengah juta sel syaraf dalam 2-3 milimeter tubuhnya ini juga memiliki kecanggihan biologis dalam tubuhnya. Contoh yang paling mudah dalam semua koloni semut adalah kecanggihan alat perkembangbiakan yang dimiliki setiap ratu semut. Meski setiap pejantan akan mati beberapa jam hingga beberapa hari setelah perkawinan, namun ratu semut bisa membuahkan keturunan dari sperma sang pejantan tadi walaupun telah mati bertahun-tahun. Padahal normalnya sperma makhluk hidup lainnya akan mati beberapa saat jika tidak segera bertemu dengan sel telur.

Dari fenomena inilah para ahli entimologi dan ilmuwan lainnya baru mulai memikirkan bank sperma manusia lima puluh tahun yang lalu. Padahal sejak zaman prasejarah, setiap ratu semut memiliki “bank sperma” yang berupa kantong oval bernama spermatheca. Dalam spermatheca inilah sperma semut pejantan dinonaktifkan secara fisiologis selama bertahun-tahun, dan kelak sang ratu akan mengeluarkan ke saluran reproduksinya.

Berbagai kehebatan semut yang terangkum dalam “The Miracle in The Ant”-nya Harun Yahya, menimbulkan berbagai pemikiran hebat tentang konsep tekhologi masa depan manusia. Meskipun secara individual semut tidak secanggih manusia, karena mereka hanya diberi kemampuan untuk melakukan sesuatu yang sederhana, namun kekalahan semut ini akan tertutupi jika mereka bekerja sama. Hidup dan kerja sama dalam koloni semut rupanya juga telah mempengaruhi NASA! Rencananya, organisasi ini akan mengirimkan banyak “robot semut” ke planet Mars daripada mengirimkan satu robot canggih. Jadi, meski sebagian robot rusak, robot lain yang tersisa akan mampu merampungkan tugas mereka.

Masya Allah… ternyata teknologi manusia tidak lebih dari sekedar teknologi semut!

Tehnik Bertahan

Jauh sebelum Harun Yahya muncul dan terkenal dengan menentang mentah-mentah teori yang menyatakan bahwa makhluk hidup yang dapat bertahan di alam adalah berkat kemampuan inidividu makhluk itu sendiri, sebenarnya nenek moyang kita pun sudah menyadarinya lewat hidup dengan bekerja sama dan berkoloni. Meski mereka tidak tahu tentang teori seleksi alam Charles Darwin, namun pada prinsipnya mereka juga mampu membuktikan bahwa teori itu salah. Seolah-olah mereka mengetahui bahwa para evolusionis hanya ingin mengesahkan keegoisan mereka sendiri dan menimpakan keegoisan ini ke seluruh alam. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai macam bentuk gotong royong di berbagai pelosok nusantara, juga lewat semboyan nenek moyang kita yang kini menjadi salah satu syair “lagu garingan” anak muda: “Makan nggak makan asal kumpul!”.

Demikian pula semut, mereka juga mampu bertahan dari berbagai ancaman yang membahayakan kelangsungan hidupnya dengan cara bekerja sama. Dalam bertahan ini, semut mempunyai berbagai tehnik dan “siasat perang”. Mulai dari spesies yang bernama Basiceros yang merupakan “ahli kamuflase” dengan menentukan karakter fisiologisnya sendiri untuk bertahan, hingga Componotous yang rela meledakkan tubuhnya sendiri demi menyelematkan teman satu koloninya. Mulai dari “tehnik sensus” untuk mengukur kekuatan musuh, hingga “tehnik blockade” untuk memastikan kemenangannya. Seolah-olah semut ini memahami berbagai kaidah penilaian medan, kepemimpinan, dan keunggulan strategis lawan yang disampaikan oleh Sun-Tzu.

Semut-semut ini juga mengenal tehnik diplomasi untuk tetap bisa survive. Seperti layaknya hewan yang lain, mereka juga melakukan simbiosis untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Mulai dari pohon akasia, hingga serangga daun menjadi model pembelajaran kita dalam memahami bagaimana sebuah kerja sama dapat menjadi keunggulan suatu bangsa. Yang pasti, semut-semut ini telah begitu banyak mengajarkan kepada kita, bagaimana sebuah bangsa yang yang terdiri dari elemen-elemen yang hanya melakukan tugas sederhana namun mampu menjadi bangsa yang kokoh. Bahkan jika konsep hidup ala semut ini diterapkan di Indonesia, mungkin akan segera menghapus stereotip “Orang Jepang berkeringat karena mereka berpikir, orang Amerika berkeringat karena mereka bekerja keras, dan orang Indonesia berkeringat karena selesai makan!”.

Menarik! Semut yang tidak pernah mengikuti mata kuliah sosial-politik, arsitektur, kimia, biologi, dan pertanian ini mampu menjadi nasehat alamiah kepada bangsa Indonesia untuk segera bersatu dan merapatkan barisan kembali. Asal saja sambutan khas Indonesia tidak didengungkan untuk menanggapi kajian ini. “Yang baik kita terima, dan yang kurang baik atau kurang sesuai kita pertimbangkan masak-masak lebih dahulu.”



Belajar dari Ayah


Sudah hampir empat tahun ini saya mengalami stagnansi dalam berkarya. Boleh dibilang dalam kurun empat waktu itu saya sedang hibernasi. Agak sedikit sulit untuk memulai lagi, terutama kemampuan analisis dan daya kritis yang sudah agak tumpul, tergantikan dengan sekumpulan sintaks-sintaks bahasa pemrograman komputer yang saya pelajari. Ya, saya sekarang hampir menyelesaikan pendidikan saya di S1 Tehnik Informatika. Mungkin saya ini salah satu ‘generalis’ produk pendidikan Indonesia: tahu banyak hal tapi nggak tahu bidangnya sendiri.

Keinginan untuk menulis dan berkarya lagi sebenarnya sudah muncul setengah tahun yang lalu. Waktu itu, teman-teman alumni PP Krapyak dari COST53 menginginkan sebuah wadah kreatifitas dan komunikasi. Saya usulkan sebuah portal web. Saya sempat pesan jasa hosting dan beli domain, rencananya akan dilaunching dalam suatu event besar bernama “Pekan Raya Pesantren 2006”. Tapi apa boleh buat, bencana alam gempa bumi melanda Yogyakarta tercinta dan otomatis rencana yang sudah digarap selama berbulan-bulan tadi gagal.

Singkat cerita, tiba-tiba saja saya merasa ingin menulis blog ini karena melihat teman-teman saya yang sudah pada rajin nge-blog sendiri-sendiri. Saya pun merasa iri, yah… sebagian dari diri saya juga merasa tersaingi, he…. Terus saya menjadi bingung sendiri lagi, kira-kira kalau saya nge-blog akan nulis apa? Tutorial komputer? Essay? Puisi? Artikel? Karya Tulis? Atau malah skripsi? He… Nggak tahu deh, tapi kayaknya dicampur-campur biasanya malah jadi enak, kayak minuman kesukaan saya: milk shake atawa soda gembira. Wekekeke…

Ok. Bismillahirrahmanirrahim… Kayaknya hal yang pertama ingin saya tulis mungkin cerita tentang ayah saya sendiri. Nggak tahu juga, tiba-tiba hal yang melintas pertama kali di pikiran saya adalah ayah saya. Saya biasa bercerita dengan teman yang lagi butuh pandangan, saran, dsj (ngerti? dsj à dan sejenisnya) tentang kisah ayah saya. Terutama bagian semangat entrepreneurship dan dimensi kehidupan beliau –yang menurut saya cukup seimbang antara duniawi dan ukhrawi. Terus terang, bagi saya beliau adalah pribadi yang mengesankan, meskipun kadang kami sering berselisih, karena beberapa perbedaan. Namun, sebagai seorang anak, saya sangat bersyukur mempunyai ayah seperti beliau. Versi cerita ini mungkin agak sedikit bias, namun saya sudah berusaha sebisa mungkin mendengarkan berbagai cerita dari berbagai pihak tentang ayah saya sendiri.


Tak kenal, maka tak bisa dipanggil… Nama ayah saya Soleh Basuki Siswoyo. Siswoyo sendiri merupakan nama Simbah saya. Ayah saya lahir tahun 1960 di sebuah desa di Kabupaten Brebes, tepatnya bernama Jatibarang (bukan yang di Indramayu). Beliau anak laki-laki kedua dari 11 bersaudara. Simbah saya waktu itu merupakan salah satu pegawai di pabrik gula (PG Jatibarang). Sejak kecil, ayah memang sedikit berbeda dari yang lain, terutama sifat rajin dan suka mengajinya. Mulai dari bangun tidur, selesai shalat subuh dan ngaji, beliau sudah langsung bersih-bersih rumah dan memberi makan hewan-hewan piaraan. Kemudiaan baru berangkat ke madrasah. Pilihan sekolah-nya pun beda dengan dengan saudara/i ayah yang lain, yang lebih memilih ke sekolah umum. Namun, meskipun di madrasah, toh akhirnya beliau mampu bersaing dan berprestasi di STM Pembangunan Semarang. Banyak cerita menarik dalam rentang waktu itu. Mulai dari hobinya yang suka hiking, teman-temannya yang konyol (alhamdulillah, saya kenal baik beberapa diantaranya). Cerita yang paling menarik buat saya sewaktu beliau di STM ini, adalah pernah dipilih sebagai ketua RT oleh penduduk setempat. Padahal status beliau cuma anak kos/pendatang. Bisa kebayang gak? Berarti leadership beliau waktu itu sudah diakui oleh lingkungan sekitarnya.

Lulus STM beliau tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, sempat daftar-daftar kerja, namun mungkin kurang ‘sreg’ dan akhirnya memutuskan back to home. Di kampung halaman beliau mulai merintis usaha bengkel & cuci mobil. Bengkelnya dibuka di depan halaman rumah simbah saya. Menurut beliau, bengkelnya adalah yang pertama di sana. Dengan ketekunan, komunikasi yang baik dengan pelanggan, usaha bengkel tadi pun maju. Sekitar tahun 1984-an, beliau sudah mempunyai anak buah 18 orang dan memperoleh pendapatan Rp 250.000,-/hari. Jumlah yang sangat besar waktu itu.

Singkat cerita, tahun 1985, ayah menikahi ibu saya, yang baru saja bertemu waktu pulang dari pengajian di masjid kampung dan langsung dilamar keesokannya setelah konsultasi dengan kyai dan disuruh untuk membuka Al-Qur’an dan jika mendapatkan surat yang baik (yang berisi berita gembira), maka ayah boleh menikahi ibu, jika tidak maka mungkin bukan jodoh yang baik. Alhamdulillah ayah dapat surat yang baik (saya lupa persisnya). Hal seperti ini mungkin sudah langka sekarang ini, tapi itulah ayah saya. Prinsipnya terhadap kyai/ulama adalah sami’na wa atho’na (saya dengar, dan saya taat).

Prinsipnya iu juga diuji lagi setelah beliau menikah. Ayah dipanggil oleh simbah. Simbah membuat keputusan yang agak sulit diterima. Usaha bengkel yang telah dirintis ayah harus diserahkan kepada kakaknya (pakde saya), dan ayah menggantikan pekerjaan pakde di Pabrik Gula dengan penghasilan Rp 25.000/bulan. Jumlah yang sangat berbeda dengan pendapatan per hari dari bengkel sekalipun. Tapi, lagi-lagi ayah membuat keputusan yang sampai sekarang masih tidak bisa diterima akal saya. Beliau menerima perintah simbah.

Hasilnya sudah bisa diduga, ekonomi keluarga ayah saya pun mulai jatuh. Sampai-sampai di hari raya lebaran tahun berikutnya, ayah harus ngutang sama simbah. Sampai suatu saat, ada kasus kebakaran di pabrik gula. Banyak wartawan yang berdatangan mencari informasi. Bukannya atasan ayah saya yang dicari sebagai yang berwenang, tapi malah ayah saya sendiri yang dicari. Mungkin karena posisi beliau waktu itu, yang menjadi tokoh pemuda dan pengurus masjid di kampung.

Merasa tidak enak dengan atasan dan rekan kerja, ayah saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Ayah saya menjadi seorang pengangguran. Hingga suatu hari, ketika ayah sedang jalan-jalan ke tambak, beliau melihat ada orang yang kesusahan dengan genset (generator set). Beliau menghampiri orang tersebut dan menawarkan bantuan. Tanpa kesusahan, ayah berhasil membetulkan genset tadi. Orang yang ditolong pun mengulurkan sejumlah uang ke ayah saya. Namun, biarpun dalam kondisi kere, ayah saya tetap menolak uang itu dan mengatakan bahwa yang ayah saya janjikan adalah hanya memberikan pertolongan dan tidak meminta imbalan. Merasa tidak enak hati, orang tadi pun minta alamat ayah saya.

Keesokan harinya orang itu pun datang dan mengenalkan diri. Namanya Pak Petrus (cerita hidupnya pun banyak yang patut ditiru, mungkin kalau anda bertemu saya langsung akan saya ceritakan). Beliau seorang warga keturunan Cina yang tinggal di Kota Tegal dan mempunyai beberapa bidang usaha. Dari perbincangan hari itu, ayah saya pun mendapat pekerjaan baru. Dari asuransi, tambak, hingga menjadi tangan kanan Pak Petrus dan dipercaya menjalankan dealer motor. Diantara masa-masa itu juga, sebenarnya ada pelajaran yang bisa banyak kita ambil. Salah satunya adalah ketika beliau konsultasi lagi dengan seorang ustadz, bagaimana agar cobaan bisa berkurang dan kembali memperoleh kejayaan. Ustadz tersebut menyarankan agar ayah saya itba’ kepada hijrah Nabi Muhammad SAW. Maka kami sekeluarga pun pindah ke luar kota. Setelah mencari kesana-kemari dipilihlah sebuah rumah di Kota Tegal untuk kami kontrak. Waktu itu usia saya sekitar lima tahun, dan langsung masuk Sekolah Dasar.

Kondisi warga di lingkungan tempat tinggal kami yang baru memang cukup bersahabat, namun ayah saya menemukan kenyataan ironis dengan musholla dekat tempat tinggal kami. Mau dibilang terurus, namun imam sholat rawatib pun masih belum tetap. Ayah yang sudah terbiasa rutin shalat di masjid pun perlahan masuk menjadi bagian dari mushalla tersebut. Alhamdulillah sampai hari ini, saya menyaksikan bahwa musholla tersebut merupakan salah satu musholla terbaik dari sisi kegiatan dan kekeluargaan antar jamaah yang pernah saya lihat.

Ketika ekonomi keluarga berangsur pulih dan kehidupan kami membaik. Cobaan pun datang lagi. Usaha Pak Petrus collapse. Berhektar-hektar tambak yang dia beli, yang diperkirakan akan menghasilkan berton-ton hasil tambak, ternyata gagal. Seluruh kekayaan yang dimiliki Pak Petrus pun digunakan untuk menutup kerugian tersebut. Sekitar sembilan mobil truk, sejumlah kendaraan pribadi, hingga rumah yang dia tinggali pun dilepas. Sampai-samapai rumahnya itu harus dia sewa untuk dia huni lagi. Dan ayah saya pun mau tidak mau terkena imbasnya.

Alhamdulillah, keadaan ini pun tidak berlangsung lama. Ketika dalam sebuah perjalanan ke rumah simbah, ada seseorang yang mengalami kesusahan dengan motor vespanya. Ayah saya pun menolong memperbaiki motor tersebut. Setelah berhasil diperbaiki, orang tersebut mengenalkan diri sebagai Pak Tomo dan menawarkan untuk singgah ke rumahnya. Pak Tomo waktu itu seorang pegawai di Pemda Kabupaten Brebes. Dari situlah ayah mendapat kesempatan untuk mencari rizqi lagi.

Kalau tidak salah, pekerjaan pertamanya adalah membetulkan sound system di lingkungan kantor Pemda. Tahun demi tahun berlalu, usaha ayah pun mulai maju lagi. Sekitar tahun 1998, saat resesi/krisis moneter menimpa Indonesia dan hampir seluruh dunia, kehidupan kami pun boleh dibilang stabil. Setelah itu, ayah malah dapat proyek besar. Hasilnya bisa anda lihat ketika anda melewati jalanan di Kabupaten Brebes. Ya, ayah saya mengerjakan proyek pemasangan Penerangan Jalan Umum. Lampu yang beliau pasang, termasuk lampu berwarna kuning yang pertama kali di sekitar karasidenan Pekalongan. Dari hasil proyek itulah, ayah bisa membeli rumah dan mobil kembali.

Tidak hentinya saya mengucap syukur alhamdulillah, sampai tahun 2007 ini keluarga kami diberi berbagai kemudahan, terutama dalam rizqi. Hal-hal lain yang bisa diambil hikmahnya dari ayah adalah sikap istiqomahnya dalam beribadah. Ayah saya selalu menyibukkan diri dengan kegiatan ibadah antara maghrib sampai isya’. Bahkan akan menolak seluruh transaksi bisnis yang masuk waktu tersebut. Karena ayah saya yakin bahwa waktu tersebut merupakan waktu yang sangat berharga dan mustajab.

Entah anda percaya atau tidak, tapi saya percaya bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, pengusaha, atau profesi terhormat apapun, mesti harus diimbangi dengan dimensi spiritual atau sebuah keyakinan yang pasti. Saya tidak bisa menceritakan terlalu panjang dan memberikan ulasan yang banyak dalam kisah yang serba disingkat ini. Tapi semoga bisa diambil pelajaran dari apa yang saya tulis disini.