Showing posts with label diary. Show all posts
Showing posts with label diary. Show all posts

23 January 2009

www = What a Wonderful Week !!

What a wonderful week! Itu yang pengin saya ungkapkan untuk peristiwa yang saya alami minggu ini. Dimulai Sabtu (17/1), saya masih agak sakit batuk & flu, padahal udah 2x periksa dokter. Kejutan dimulai sorenya (malam Minggu), ibu dan adik ngasih ucapan selamat ultah dan memberi 2 bingkisan kado setelah doa bersama. Besoknya (18/1) saya mulai nyupir mobil yang udah dibeliin ayah satu minggu sebelumnya. Lumayan, udah bisa bawa ke luar kota...
Senin (19/1) pagi, saya mulai aktifitas normal. Kondisi badan udah agak membaik, setelah saya memutuskan untuk tidak minum obat yang dokter beri dan cuma minum OBH yang saya beli
sendiri dari apotik. Pagi itu saya dapet order untuk instalasi dan setup sebuah warnet kecil, serta memuluskan langkah untuk mulai jualan software bikinan sendiri. Lumayan buat nyambung hidup.. :) .
Senin sore, ada kabar yang cukup mengejutkan. Awalnya ada panggilan telpon masuk ke ponsel saya, dengan angka di depan 021. Wah, saya pikir pasti teman saya. Saya pun angkat telpon sambil bercanda. Eh, tahunya tuh telpon dari IBM Jakarta. Mereka memanggil saya untuk ikut seleksi rekruitment karyawan baru. Saya memang sempat iseng memasukkan aplikasi lewat informasi yang saya peroleh dari JobsDB.com 1/2 tahun yang lalu. Waduh, saya pun sempat bingung, di satu sisi saya sedang mulai membangun
wirausaha saya sendiri, di sisi lain jarang2 dapet tawaran dari perusahaan sekelas IBM!
Saya pun minta pertimbangan dari ortu, dan saya pikir saya masih perlu belajar dari IBM. Maka saya putuskan Selasa (20/1) berangkat ke Jakarta, setelah sebelumnya melimpahkan urusan instalasi warnet ke orang lain. Selasa pagi saya berangkat dari Brebes dengan menggunakan kereta Cirebon Express. Sampai di Jakarta, saya langsung disambut teman saya Irfan di Gambir. Kita ke Gedung Pramuka sebentar untuk urusan kecil, setelah itu transit di tempat teman saya Defri di Sunter.
Malamnya, saya dan teman2 SMA yang domisili d Jakarta kumpul2 bareng d Kemayoran. Senang rasanya, dapat bertemu dg teman2 semasa sekolah d Jogja dulu. Sambil kongkow2, kita juga obrolin masalah reuni dan kepengurusan alumni. Gak terasa, kita ngobrol hingga jam 1 malam.
Besok paginya, Rabu (21/1), saya pun berangkat ngikuti seleksi IBM. Tes dimulai pukul 9 pagi dengan materi psikotes. Kemudian dilanjutkan interview hingga 3x, dan baru selesai jam 5 sore. Ada 40 orang d seleksi hari itu yang memperebutkan kursi panas d IBM. Alhamdulillah lancar, dan saya nambah banyak teman pas waktu seleksi itu.

Kamis (22/1), saya pulang lagi k Tegal, dan sorenya langsung anterin ayah ke stasiun untuk berangkat k Kediri. Jumat (23/1) hari ini, saya mulai lancar nyupir mobil sendiri, dan saya langsung ngacir ke tempat kakek untuk menemani beliau sholat Jumat.

29 December 2008

2008: Rehat dari Blogosphere

Seperti janji saya sebelumnya, saya ingin terus menulis. Kali ini saya ingin bercerita tentang apa yang saya lakukan selama satu tahun ini, sampai2 rehat dari blogosphere.
Akhir tahun 2007, saya diminta oleh PT Smartweb - Jakarta untuk mengerjakan project di PT BDI, tepatnya Danamon Simpan Pinjam (DSP) di region Magelang. Waktu itu saya diminta menangani 8 kantor cabang. Nilai project yang ditawarkan ke saya sebetulnya sangat minim, namun saya pikir waktu itu untuk 'membuka pintu' dengan perusahaan terkait, jadi saya terima saja.
Job duty-nya sebetulnya tidak sulit, hanya update dan instal beberapa software. Cuma yang berkesan adalah waktu pertama kali mengerjakan project, saya mengambil DSP terjauh dari lokasi saya di Jogja. Saya kerjakan DSP Ngadirejo-Temanggung. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 80 km. Berangkat pagi jam 7 dari Jogja dan baru kembali lagi jam 10 malam. Dalam perjalanan pulang pada malam hari itu saya sempat kehujanan dan mengalami ban sepeda motor bocor. Untungnya (dasar orang Jawa, kena musibah masih bilang untung.. :) ) pas ban bocor sudah masuk daerah pemukiman penduduk, gak di tengah-tengah hutan.
Setelah pekerjaan ini selesai, saya mulai mengajukan skripsi saya. Saya mengambil tema e-commerce. Pengerjaan skripsi saya ini sendiri tidak memakan waktu lama, hanya sekitar satu minggu. Sebab selain bahan-bahan skripsi sudah dapat, tinggal diracik dan dimasak, saya pun mendapat dosen pembimbing yang baik dan tidak mempersulit pengerjaan skripsi ini. Selama Januari hingga Februari 2008, saya cuma disibukkan dengan administrasi skripsi hingga pendadaran dan administrasi wisuda.

Bulan Maret 2008 saya mendapat pekerjaan lagi dengan wilayah kerja dan tanggung jawab yang lebih besar. Tidak tanggung-tanggung, saya mendapat pekerjaan implementasi SecureLAN untuk DSP se Jawa Tengah. Jumlah unit-nya ada 177 unit. Saya dan teman-teman pun membentuk 3 team implementor. Alhamdulillah, ternyata team kami mampu menyelesaikan project ini jauh sebelum batas waktu yang ditentukan. Bahkan prestasi kami adalah yang terbaik se-Indonesia.

Akhir April 2008, saya melaksanakan prosesi wisuda sarjana saya. Setelah itu, pada bulan Mei saya mengerjakan project pemasangan PABX di RSUD Kabupaten Brebes. Pemasangan PABX ini bukan yang pertama bagi saya. Sebelumnya saya juga pernah memasang PABX di Dinkesh Brebes (lihat foto). PABX yang kami install adalah Panasonix KX-TDA 200 Hybrid. Relatif tidak menemui kendala berarti di sini.

















Bulan-bulan berikutnya adalah bulan-bulan yang relatif sulit untuk dilalui, menyusul kesuksesan team kami pada project sebelumnya, kami sudah dipersiapkan untuk beberapa project untuk satu tahun ke depan. Bahkan kami sudah dikirim file alamat-alamat beberapa kantor cabang bank, tidak hanya di Jawa Tengah, bahkan hingga Jawa Timur dan Bali. Namun kenyataan berbicara lain, project yang kami tunggu-tunggu tak juga datang. Alhasil team kami masing-masing pun mencari pekerjaan seadanya untuk menyambung hidup.

Baru pada akhir November kami dikontak untuk project Branch Roll Out pada Bank BTPN. Project yang sedianya mulus, tersandung di masalah administrasi yang tidak sesuai dengan yang kami harapkan. Namun kami tetap terima pekerjaan tersebut untuk menambah peluang kami di project lainnya.

Di tahun 2009 ini, saya berharap selain dapat mengerjakan beberapa project lagi, juga ingin terus aktif menulis di blog ini. Ke depannya, saya berencana menerbitkan satu-dua buku. Amin.. :)

27 December 2008

Bangsa Semut Berbenah

Setelah sekian lama absen dari peredaran di dunia blog (terakhir posting blog ini September 2007 -ntung gak dihapus sama Blogger.com), akhirnya saya memutuskan comeback. Mudah2an sih bisa sukses kayak comeback-nya Rocky Balboa (he...).

Mengapa comeback?
Sebenarnya saya selalu cinta dengan blog ini dan pengin banget konsisten ngisi blog dan sharing pengetahuan dengan teman-teman. Tapi kesibukan aktifitas saya kemarin2 menyulitkan saya untuk memenuhi keinginan saya tadi. Sebenarnya alasan lain yang lebih punya andil adalah saya tidak punya akses internet yang cukup untuk terus ber-blogging ria. Setelah mendapatkan langganan internet, saya pun memutuskan comeback.

Apa rencana selanjutnya?
Saya hanya ingin terus menulis dan menulis. Tentang tutorial CakePHP mungkin akan berlanjut dengan edisi yang berbeda (maksudnya tutorial yg kemarin itu khan buat Cake v 1.1, sekarang yang v 1.2 banyak terdapat perbedaan dan juga sudah banyak referensi berbahasa Indonesia, sehingga mungkin akan lebih tepat langsung ke case-study yang sesuai). Fokus saya nanti mungkin di sekitar implementasi MVC. Sekarang sudah menjadi tren tersendiri pemrograman MVC ini. Joomla pun memakai konsep ini.
Model nanti akan dipaparkan sejumlah trik2nya. Termasuk tools yang biasa saya gunakan dalam development.
View akan sedikit melebar ke optimasi tampilan dengan CSS. Saya lagi jatuh cinta sama CSS ini.
Controller akan fokus ke optimasi OOP.
Tulisan lain di luar itu, saya usahakan tidak terlalu menyimpang jauh, tetap dalam koridor2 ICT dan MVC khususnya.

Apa yang saya tawarkan lagi?
Bangsasemut tidak akan memberi banyak janji, tapi bukti. Doakan aja supaya saya tidak seperti caleg2 yang cuma bisa berkata manis pada saat kampanye. He...



24 September 2007

Adios, Jose!


Rasanya bagai disambar petir di siang bolong, ketika Jumat (21/9) yang lalu saya dikabari teman bahwa pelatih eksentik berkebangsaan Portugal yang menjuluki dirinya sendiri ‘The Special One’, Jose Mourinho, mengundurkan diri dari Chelsea FC. Awal mulanya saya cuma menganggap kabar tersebut sebagai gurauan saja. Saya sendiri baru benar-benar percaya setelah pada hari Minggu (23/9) menyaksikan siaran One Stop Football on Sunday di Trans7.
Kepergian pelatih ini juga mungkin akibat hasil tidak maksimal yang diperoleh dari pertandingannya yang terakhir, ditahan imbang 1-1 melawan Rosenborg FC (Champions League), dan sebelumnya 0-0 melawan Blackburn Rovers serta kalah dari tim tuan rumah Aston Villa 2-0 (EPL). Prestasi yang cenderung menurun ini, meski masih menempatkan Chelsea di papan atas persaingan EPL, namun tidak sesuai dengan ekspektasi sang pemilik Chelsea, Roman Abramovich.

Roman sebagai seorang biliuner Rusia yang selalu menginginkan hasil lebih tentu mempunyai ‘standar kemlaratan’ yang berbeda. Setelah sukses membawa FC Porto menjuarai liga Champion, Jose ditransfer ke Chelsea pada musim 2004-05. Kontan prestasi yang dihasilkannya luar biasa gemilang. Selama hamper setengah abad Chelsea belum mendapatkan gelar di Liga Premiere, langsung diberikannya pada musim itu. Dan langsung dua musim berturutan. Sayang kesempatan untuk mempertahankan dominasi tiga tahun berturutan dipatahkan Manchester United karena krisis lini belakang di tubuh Chelsea.
Enam tropi yang diberikannya selama tiga tahun membesut Chelsea rupanya belum cukup menghapus dahaga sang pemilik akan trofi Liga Champion. Selain dandanannya yang ‘dandy’, mulut pedas dan tingkah laku kontroversialnya membuat dirinya menjadi sosok yang paling menarik perhatian sekaligus menjadikan dirinya sebagai pribadi yang mudah mempunyai masalah. Pria yang pernah dinobatkan sebagai pemilik gaya berbusana terbaik di Britania Raya bersanding dengan Gwen Stefani di dandanan wanitanya ini, selain sering melakukan perang kata-kata dengan para rivalnya, juga acap kali melontarkan pernyataan pedas terhadap pemain dan petinggi klubnya sendiri.
Keputusannya untuk membangku cadangkan pemain kesayangan Roman, Shevchenko dan Ballack, bahkan tidak mencantumkan Ballack dalam daftar pemain Chelsea untuk babak kualifikasi grup liga Champion membuat posisinya seperti telur di ujung tanduk. Dan konfliknya dengan pemain Chelsea pun semakin membuat keputusannya untuk mundur menjadi tak terelakkan.
Dan yang saya sangat sesalkan adalah kenapa tidak ada pembelaan dari pihak Chelsea, mengingat prestasinya yang gemilang selama ini. Termasuk rekor kandang tak pernah terkalahkan terbanyak di EPL (64 pertandingan) yang mampu mematahkan rekor 63 kali milik Liverpool pada saat ditangani Bob Paisley (1978-80).
Sosok yang mampu memberi motivasi dan mendoktrin para pemain untuk menjadi juara benar-benar menjadi inspirasi bagi saya. Buat saya Jose ibarat Hitler untuk Nazi. Kepemimpinannya yang kuat dan eksentrik ini juga menjadi komoditas tersendiri bagi industri persepakbolaan Inggris. Saya yakin, lepasnya Mourinho akan mengurangi ‘nilai jual’ EPL. Bahkan seterunya di lapangan, Sir Alex Ferguson pun sangat menyayangkan mundurnya Mourinho. Mungkin tidak akan ada lagi sosok yang bisa diajak berbagi wine dan beradu komentar di luar lapangan. Dari semua pembeberan tadi, bagi diri saya sendiri, untuk saat ini saya tidak punya alasan untuk mencintai Chelsea lagi. Saya cuma berharap saya bisa melihat aksi-aksi Mourinho lagi di dalam dan luar lapangan. Dan saya pun berharap seandainya tulisan ini bisa menggugah para blogger lain yang memiliki persamaan dengan apa yang saya rasakan, untuk sama-sama menuliskan komentarnya. Semoga saja tulisan ini bisa ada artinya.


04 March 2007

Belajar dari Ayah


Sudah hampir empat tahun ini saya mengalami stagnansi dalam berkarya. Boleh dibilang dalam kurun empat waktu itu saya sedang hibernasi. Agak sedikit sulit untuk memulai lagi, terutama kemampuan analisis dan daya kritis yang sudah agak tumpul, tergantikan dengan sekumpulan sintaks-sintaks bahasa pemrograman komputer yang saya pelajari. Ya, saya sekarang hampir menyelesaikan pendidikan saya di S1 Tehnik Informatika. Mungkin saya ini salah satu ‘generalis’ produk pendidikan Indonesia: tahu banyak hal tapi nggak tahu bidangnya sendiri.

Keinginan untuk menulis dan berkarya lagi sebenarnya sudah muncul setengah tahun yang lalu. Waktu itu, teman-teman alumni PP Krapyak dari COST53 menginginkan sebuah wadah kreatifitas dan komunikasi. Saya usulkan sebuah portal web. Saya sempat pesan jasa hosting dan beli domain, rencananya akan dilaunching dalam suatu event besar bernama “Pekan Raya Pesantren 2006”. Tapi apa boleh buat, bencana alam gempa bumi melanda Yogyakarta tercinta dan otomatis rencana yang sudah digarap selama berbulan-bulan tadi gagal.

Singkat cerita, tiba-tiba saja saya merasa ingin menulis blog ini karena melihat teman-teman saya yang sudah pada rajin nge-blog sendiri-sendiri. Saya pun merasa iri, yah… sebagian dari diri saya juga merasa tersaingi, he…. Terus saya menjadi bingung sendiri lagi, kira-kira kalau saya nge-blog akan nulis apa? Tutorial komputer? Essay? Puisi? Artikel? Karya Tulis? Atau malah skripsi? He… Nggak tahu deh, tapi kayaknya dicampur-campur biasanya malah jadi enak, kayak minuman kesukaan saya: milk shake atawa soda gembira. Wekekeke…

Ok. Bismillahirrahmanirrahim… Kayaknya hal yang pertama ingin saya tulis mungkin cerita tentang ayah saya sendiri. Nggak tahu juga, tiba-tiba hal yang melintas pertama kali di pikiran saya adalah ayah saya. Saya biasa bercerita dengan teman yang lagi butuh pandangan, saran, dsj (ngerti? dsj à dan sejenisnya) tentang kisah ayah saya. Terutama bagian semangat entrepreneurship dan dimensi kehidupan beliau –yang menurut saya cukup seimbang antara duniawi dan ukhrawi. Terus terang, bagi saya beliau adalah pribadi yang mengesankan, meskipun kadang kami sering berselisih, karena beberapa perbedaan. Namun, sebagai seorang anak, saya sangat bersyukur mempunyai ayah seperti beliau. Versi cerita ini mungkin agak sedikit bias, namun saya sudah berusaha sebisa mungkin mendengarkan berbagai cerita dari berbagai pihak tentang ayah saya sendiri.


Tak kenal, maka tak bisa dipanggil… Nama ayah saya Soleh Basuki Siswoyo. Siswoyo sendiri merupakan nama Simbah saya. Ayah saya lahir tahun 1960 di sebuah desa di Kabupaten Brebes, tepatnya bernama Jatibarang (bukan yang di Indramayu). Beliau anak laki-laki kedua dari 11 bersaudara. Simbah saya waktu itu merupakan salah satu pegawai di pabrik gula (PG Jatibarang). Sejak kecil, ayah memang sedikit berbeda dari yang lain, terutama sifat rajin dan suka mengajinya. Mulai dari bangun tidur, selesai shalat subuh dan ngaji, beliau sudah langsung bersih-bersih rumah dan memberi makan hewan-hewan piaraan. Kemudiaan baru berangkat ke madrasah. Pilihan sekolah-nya pun beda dengan dengan saudara/i ayah yang lain, yang lebih memilih ke sekolah umum. Namun, meskipun di madrasah, toh akhirnya beliau mampu bersaing dan berprestasi di STM Pembangunan Semarang. Banyak cerita menarik dalam rentang waktu itu. Mulai dari hobinya yang suka hiking, teman-temannya yang konyol (alhamdulillah, saya kenal baik beberapa diantaranya). Cerita yang paling menarik buat saya sewaktu beliau di STM ini, adalah pernah dipilih sebagai ketua RT oleh penduduk setempat. Padahal status beliau cuma anak kos/pendatang. Bisa kebayang gak? Berarti leadership beliau waktu itu sudah diakui oleh lingkungan sekitarnya.

Lulus STM beliau tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, sempat daftar-daftar kerja, namun mungkin kurang ‘sreg’ dan akhirnya memutuskan back to home. Di kampung halaman beliau mulai merintis usaha bengkel & cuci mobil. Bengkelnya dibuka di depan halaman rumah simbah saya. Menurut beliau, bengkelnya adalah yang pertama di sana. Dengan ketekunan, komunikasi yang baik dengan pelanggan, usaha bengkel tadi pun maju. Sekitar tahun 1984-an, beliau sudah mempunyai anak buah 18 orang dan memperoleh pendapatan Rp 250.000,-/hari. Jumlah yang sangat besar waktu itu.

Singkat cerita, tahun 1985, ayah menikahi ibu saya, yang baru saja bertemu waktu pulang dari pengajian di masjid kampung dan langsung dilamar keesokannya setelah konsultasi dengan kyai dan disuruh untuk membuka Al-Qur’an dan jika mendapatkan surat yang baik (yang berisi berita gembira), maka ayah boleh menikahi ibu, jika tidak maka mungkin bukan jodoh yang baik. Alhamdulillah ayah dapat surat yang baik (saya lupa persisnya). Hal seperti ini mungkin sudah langka sekarang ini, tapi itulah ayah saya. Prinsipnya terhadap kyai/ulama adalah sami’na wa atho’na (saya dengar, dan saya taat).

Prinsipnya iu juga diuji lagi setelah beliau menikah. Ayah dipanggil oleh simbah. Simbah membuat keputusan yang agak sulit diterima. Usaha bengkel yang telah dirintis ayah harus diserahkan kepada kakaknya (pakde saya), dan ayah menggantikan pekerjaan pakde di Pabrik Gula dengan penghasilan Rp 25.000/bulan. Jumlah yang sangat berbeda dengan pendapatan per hari dari bengkel sekalipun. Tapi, lagi-lagi ayah membuat keputusan yang sampai sekarang masih tidak bisa diterima akal saya. Beliau menerima perintah simbah.

Hasilnya sudah bisa diduga, ekonomi keluarga ayah saya pun mulai jatuh. Sampai-sampai di hari raya lebaran tahun berikutnya, ayah harus ngutang sama simbah. Sampai suatu saat, ada kasus kebakaran di pabrik gula. Banyak wartawan yang berdatangan mencari informasi. Bukannya atasan ayah saya yang dicari sebagai yang berwenang, tapi malah ayah saya sendiri yang dicari. Mungkin karena posisi beliau waktu itu, yang menjadi tokoh pemuda dan pengurus masjid di kampung.

Merasa tidak enak dengan atasan dan rekan kerja, ayah saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Ayah saya menjadi seorang pengangguran. Hingga suatu hari, ketika ayah sedang jalan-jalan ke tambak, beliau melihat ada orang yang kesusahan dengan genset (generator set). Beliau menghampiri orang tersebut dan menawarkan bantuan. Tanpa kesusahan, ayah berhasil membetulkan genset tadi. Orang yang ditolong pun mengulurkan sejumlah uang ke ayah saya. Namun, biarpun dalam kondisi kere, ayah saya tetap menolak uang itu dan mengatakan bahwa yang ayah saya janjikan adalah hanya memberikan pertolongan dan tidak meminta imbalan. Merasa tidak enak hati, orang tadi pun minta alamat ayah saya.

Keesokan harinya orang itu pun datang dan mengenalkan diri. Namanya Pak Petrus (cerita hidupnya pun banyak yang patut ditiru, mungkin kalau anda bertemu saya langsung akan saya ceritakan). Beliau seorang warga keturunan Cina yang tinggal di Kota Tegal dan mempunyai beberapa bidang usaha. Dari perbincangan hari itu, ayah saya pun mendapat pekerjaan baru. Dari asuransi, tambak, hingga menjadi tangan kanan Pak Petrus dan dipercaya menjalankan dealer motor. Diantara masa-masa itu juga, sebenarnya ada pelajaran yang bisa banyak kita ambil. Salah satunya adalah ketika beliau konsultasi lagi dengan seorang ustadz, bagaimana agar cobaan bisa berkurang dan kembali memperoleh kejayaan. Ustadz tersebut menyarankan agar ayah saya itba’ kepada hijrah Nabi Muhammad SAW. Maka kami sekeluarga pun pindah ke luar kota. Setelah mencari kesana-kemari dipilihlah sebuah rumah di Kota Tegal untuk kami kontrak. Waktu itu usia saya sekitar lima tahun, dan langsung masuk Sekolah Dasar.

Kondisi warga di lingkungan tempat tinggal kami yang baru memang cukup bersahabat, namun ayah saya menemukan kenyataan ironis dengan musholla dekat tempat tinggal kami. Mau dibilang terurus, namun imam sholat rawatib pun masih belum tetap. Ayah yang sudah terbiasa rutin shalat di masjid pun perlahan masuk menjadi bagian dari mushalla tersebut. Alhamdulillah sampai hari ini, saya menyaksikan bahwa musholla tersebut merupakan salah satu musholla terbaik dari sisi kegiatan dan kekeluargaan antar jamaah yang pernah saya lihat.

Ketika ekonomi keluarga berangsur pulih dan kehidupan kami membaik. Cobaan pun datang lagi. Usaha Pak Petrus collapse. Berhektar-hektar tambak yang dia beli, yang diperkirakan akan menghasilkan berton-ton hasil tambak, ternyata gagal. Seluruh kekayaan yang dimiliki Pak Petrus pun digunakan untuk menutup kerugian tersebut. Sekitar sembilan mobil truk, sejumlah kendaraan pribadi, hingga rumah yang dia tinggali pun dilepas. Sampai-samapai rumahnya itu harus dia sewa untuk dia huni lagi. Dan ayah saya pun mau tidak mau terkena imbasnya.

Alhamdulillah, keadaan ini pun tidak berlangsung lama. Ketika dalam sebuah perjalanan ke rumah simbah, ada seseorang yang mengalami kesusahan dengan motor vespanya. Ayah saya pun menolong memperbaiki motor tersebut. Setelah berhasil diperbaiki, orang tersebut mengenalkan diri sebagai Pak Tomo dan menawarkan untuk singgah ke rumahnya. Pak Tomo waktu itu seorang pegawai di Pemda Kabupaten Brebes. Dari situlah ayah mendapat kesempatan untuk mencari rizqi lagi.

Kalau tidak salah, pekerjaan pertamanya adalah membetulkan sound system di lingkungan kantor Pemda. Tahun demi tahun berlalu, usaha ayah pun mulai maju lagi. Sekitar tahun 1998, saat resesi/krisis moneter menimpa Indonesia dan hampir seluruh dunia, kehidupan kami pun boleh dibilang stabil. Setelah itu, ayah malah dapat proyek besar. Hasilnya bisa anda lihat ketika anda melewati jalanan di Kabupaten Brebes. Ya, ayah saya mengerjakan proyek pemasangan Penerangan Jalan Umum. Lampu yang beliau pasang, termasuk lampu berwarna kuning yang pertama kali di sekitar karasidenan Pekalongan. Dari hasil proyek itulah, ayah bisa membeli rumah dan mobil kembali.

Tidak hentinya saya mengucap syukur alhamdulillah, sampai tahun 2007 ini keluarga kami diberi berbagai kemudahan, terutama dalam rizqi. Hal-hal lain yang bisa diambil hikmahnya dari ayah adalah sikap istiqomahnya dalam beribadah. Ayah saya selalu menyibukkan diri dengan kegiatan ibadah antara maghrib sampai isya’. Bahkan akan menolak seluruh transaksi bisnis yang masuk waktu tersebut. Karena ayah saya yakin bahwa waktu tersebut merupakan waktu yang sangat berharga dan mustajab.

Entah anda percaya atau tidak, tapi saya percaya bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, pengusaha, atau profesi terhormat apapun, mesti harus diimbangi dengan dimensi spiritual atau sebuah keyakinan yang pasti. Saya tidak bisa menceritakan terlalu panjang dan memberikan ulasan yang banyak dalam kisah yang serba disingkat ini. Tapi semoga bisa diambil pelajaran dari apa yang saya tulis disini.